SNI dalam Dunia Pendidikan

Pendahuluan

Di balik proses pembelajaran di sekolah, buku pelajaran memegang peranan penting sebagai rujukan utama bagi guru dan siswa. Namun, seiring meningkatnya variasi penerbit dan platform digital, muncul pertanyaan penting: apakah seluruh buku pelajaran yang beredar di Indonesia sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI)?. Artikel ini membahas peran SNI dalam Dunia Pendidikan, khususnya pada buku pelajaran, serta menyoroti tantangan penerapan standar tersebut di lapangan.


Apa Itu SNI dan Mengapa Relevan untuk Pendidikan?

Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah standar yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) untuk memastikan keselamatan, kualitas, dan kesesuaian produk atau layanan terhadap kebutuhan masyarakat.

SNI dalam Dunia Pendidikan digunakan untuk:

  • Menjamin mutu isi dan fisik buku pelajaran
  • Meningkatkan keterbacaan dan keamanan bahan cetakan
  • Mendukung keseragaman mutu pendidikan nasional

SNI Buku Pelajaran: Apa yang Diatur?

Buku pelajaran yang sesuai SNI harus memenuhi standar seperti:

  • Kualitas isi: sesuai kurikulum nasional, objektif, bebas dari bias SARA/politik
  • Kesesuaian desain dan tata letak: mudah dibaca, menggunakan bahasa yang baik dan benar
  • Spesifikasi fisik: kertas tidak mudah robek, tinta tidak mengandung bahan berbahaya
  • Aspek keamanan untuk anak-anak, terutama pada jenjang PAUD dan SD
  • SNI ISO 8124 untuk aspek keselamatan bahan cetak (jika diperlukan)

Siapa yang Bertanggung Jawab?

  • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pusat Kurikulum dan Perbukuan mengawasi kesesuaian isi buku pelajaran.
  • BSN dan Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) memberikan sertifikasi SNI untuk buku yang mengajukan sertifikasi formal.
  • Penerbit dan percetakan bertanggung jawab memenuhi aspek teknis dan isi yang sesuai standar.

Masalah di Lapangan

  • Masih banyak buku tidak bersertifikat SNI, terutama di tingkat daerah atau dari penerbit kecil.
  • Kurikulum yang sering berubah membuat buku cepat kedaluwarsa sebelum bisa disertifikasi.
  • Kurangnya pengawasan distribusi, terutama buku digital atau e-book yang diakses bebas.
  • Sertifikasi bersifat sukarela, bukan wajib bagi semua jenis buku pelajaran.

Dampak Buku Tidak Standar

  • Kualitas pembelajaran tidak konsisten antar sekolah atau wilayah.
  • Potensi penyebaran informasi yang salah atau tidak objektif.
  • Risiko paparan bahan kimia dari tinta atau kertas buruk pada anak-anak usia dini.
  • Kesulitan dalam proses akreditasi sekolah karena penggunaan materi ajar tidak resmi.

Solusi dan Rekomendasi

  1. Dorong penerbit mengadopsi SNI secara proaktif, terutama dalam percetakan dan isi.
  2. Perkuat regulasi dan insentif, misalnya mewajibkan SNI bagi buku pelajaran bantuan pemerintah.
  3. Lakukan audit dan penilaian berkala, terutama terhadap buku ajar digital.
  4. Tingkatkan literasi guru dan sekolah dalam memilih dan menilai kelayakan buku ajar.
  5. BSN dan Kemendikbud bisa menyediakan daftar buku bersertifikasi SNI yang mudah diakses publik.

Kesimpulan

SNI pada buku pelajaran bukan hanya soal kualitas cetak, tetapi menyangkut kesetaraan akses terhadap pendidikan bermutu di seluruh Indonesia. Meskipun belum semua buku pelajaran wajib bersertifikat SNI, penerapan standar ini dapat menjadi alat kontrol mutu yang penting dalam membangun sistem pendidikan nasional yang kuat, aman, dan kredibel.

Jika anda tertarik dengan SNI dan ISO bisa kunjungi website kami dengan cara Klik Disini!

Tags:

No responses yet

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Latest Comments