Penerapan Standar SNI dan ISO

Pendahuluan

Analisis Penerapan Standar SNI dan ISO dalam Industri makanan dan minuman (mamin) merupakan salah satu sektor strategis dalam perekonomian nasional yang memiliki kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta penyediaan lapangan kerja. Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap keamanan, kualitas, dan keberlanjutan produk, pelaku industri dituntut untuk memenuhi standar yang lebih ketat, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dua standar yang paling umum dijadikan acuan adalah Penerapan Standar SNI dan ISO. Keduanya berperan penting dalam menjaga mutu produk, keamanan pangan, efisiensi proses, dan kepercayaan pasar.


Pengertian dan Peran SNI dan ISO dalam Industri Mamin

SNI (Standar Nasional Indonesia)

SNI adalah standar teknis yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) dan dapat bersifat wajib maupun sukarela, tergantung pada risiko produk terhadap kesehatan dan keselamatan publik.

Contoh penerapan SNI di industri mamin:

  • SNI 01-3555-2006 (Air Minum Dalam Kemasan)
  • SNI 2973:2011 (Susu UHT)
  • SNI 7388:2009 (Batas Maksimum Cemaran Logam Berat dalam Pangan)

🌐 ISO (International Organization for Standardization)

ISO adalah standar internasional yang dikembangkan oleh organisasi global untuk meningkatkan kualitas, efisiensi, dan keberlanjutan proses bisnis.

ISO yang relevan untuk industri mamin:

  • ISO 22000: Sistem Manajemen Keamanan Pangan
  • ISO 9001: Sistem Manajemen Mutu
  • ISO 14001: Sistem Manajemen Lingkungan
  • ISO 45001: Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Manfaat Penerapan SNI dan ISO dalam Industri Mamin

  1. Menjamin Keamanan dan Kualitas Produk
    • SNI dan ISO memastikan bahwa proses produksi mengikuti prinsip hygiene, sanitasi, dan pengendalian mutu yang ketat.
    • Mengurangi risiko cemaran biologis, kimia, dan fisik dalam produk akhir.
  2. Meningkatkan Daya Saing Produk
    • Produk bersertifikat lebih mudah diterima di pasar nasional dan internasional.
    • Sertifikasi ISO seringkali menjadi syarat masuk pasar ekspor.
  3. Meningkatkan Efisiensi Operasional
    • ISO mendorong perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) dalam seluruh siklus produksi.
    • Meminimalkan pemborosan, kesalahan produksi, dan keluhan pelanggan.
  4. Meningkatkan Kepercayaan Konsumen
    • Label “memenuhi SNI” atau “bersertifikat ISO” menjadi nilai jual yang meningkatkan citra merek.

Tantangan dalam Implementasi

  • Biaya Sertifikasi dan Audit
    UKM mamin sering mengalami kendala pembiayaan untuk menerapkan sistem dan mengikuti proses audit sertifikasi.
  • Kurangnya SDM yang Kompeten
    Belum semua pelaku usaha memiliki tenaga kerja yang memahami konsep HACCP, GMP, atau ISO secara teknis.
  • Persepsi bahwa SNI dan ISO hanya untuk perusahaan besar
    Padahal, skema pendampingan dan sertifikasi juga tersedia untuk usaha kecil jika dilakukan bertahap.

Studi Kasus Singkat: Perusahaan Minuman Ringan

Sebuah perusahaan minuman ringan di Jawa Barat menerapkan SNI 01-3555-2006 dan ISO 22000. Setelah implementasi:

  • Keluhan pelanggan menurun 30% dalam 6 bulan.
  • Penjualan ekspor ke pasar Asia Tenggara meningkat karena sertifikasi ISO menjadi nilai tambah.
  • Efisiensi operasional meningkat dengan penurunan pemborosan bahan baku sebesar 12%.

Kesimpulan

Penerapan standar SNI dan ISO dalam industri makanan dan minuman tidak hanya menjadi kewajiban regulatif, tetapi juga investasi strategis untuk meningkatkan daya saing, reputasi, dan keberlanjutan usaha. Meski tantangan masih ada, integrasi kedua standar ini memberikan fondasi kuat untuk menghasilkan produk yang aman, berkualitas, dan dipercaya konsumen.

Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, asosiasi industri, dan lembaga sertifikasi perlu ditingkatkan agar lebih banyak pelaku usaha, khususnya UMKM, dapat memperoleh akses ke sertifikasi SNI dan ISO.

Untuk cari tau yang lainya bisa klik disini

Tags:

No responses yet

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Latest Comments